Selasa, 14 Januari 2014

Hakikat Teori

HAKIKAT TEORI

hakikat teoriSecara umum teori diartikan sebagai pendapat. Sedangkan dalam pengertian khusus, teori hanya digunakan dalam lingkungan ilmu atau biasa disebut teori ilmiah. Dalam pengertian khusus ini, Kerlinger (1973:9) menyatakan bahwa :
“ A theory is a set of interrelated constructs (concepts), definitions, and propositions that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose of explaning and predicting the phenomena.”
Di dalam definisi ini terkandung tiga konsep penting. Pertama, suatu teori adalah satu set proposisi yang terdiri atas konsep-konsep yang berhubungan. Kedua, teori memperlihatkan hubungan antarvariabel atau antar konsep yang menyajikan suatu pandangan yang sistematik tentang fenomena. Ketiga, teori haruslah menjelaskan variabelnya dan bagaimana variabel itu berhubungan.
Dengan demikian, teori dianggap sebagai sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematik dalam gejala sosial maupun natura yang ingin diteliti dan juga merupakan alat dari ilmu (tool of science). Di lain pihak, teori juga merupakan alat penolong teori. Sebagai alat dari ilmu, teori mempunyai peranan sebagai : (a) teori sebagai orientasi utama dari ilmu, (b) teori sebagai konseptualisasi dan klasifikasi, (c) teori meringkas fakta, (d) teori memprediksi fakta-fakta, dan (e) teori memperjelas celah kosong. Teori mempunyai hubungan yang erat dengan penelitian dan juga dapat meningkatkan arti dari penemuan penelitian. Tanpa teori, penemuan tersebut akan merupakan keterangan-keterangan empiris yang berpencar. Makin banyak penelitian yang dituntun oleh teori, maka makin banyak pula kontribusi penelitian yang secara langsung dapat mengembangkan ilmu pengetahuan (disarikan dari Moh. Nazir, 1983:22-25)
Secara ringkas, Ismaun (2001:32) mengemukakan bahwa teori adalah pernyataan yang berisi kesimpulan tentang adanya keteraturan subtantif. Menemukan keteraturan itulah tugas ilmuwan, dan dengan kemampuan kreatif rekayasanya, ilmuwan dapat membangun keteraturan rekayasa. Keteraturan rekayasa ini dapat dibedakan dalam tiga keteraturan, yaitu : (1) keteraturan alam, (2) keteraturan kehidupan sosial manusia dan (3) keteraturan rekayasa teknologi.
Dari sini timbul pertanyaan bagaimana implikasi dan implementasi teori terhadap ketiga hukum keteraturan tersebut ?
Alam semesta ini memiliki keteraturan yang determinate. Ilmu-ilmu kealaman biasa disebut hard science, karena segala proses alam yang berupa anorganik sampai organik dan hubungan satu dengan lainnya dapat dieksplanasikan dan diprediksikan relatif tepat.
Memang, hingga sejauh ini kemampuan manusia dalam membangun berbagai teori tentang kealaman (natura), baik yang organik maupun anorganik, sudah begitu maju dan canggih. Dengan kemajuan teori ini, manusia mampu memperlakukan alam sedemikian rupa, dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dan kemajuan peradaban manusia itu sendiri. Namun di sisi lain, kadang kala manusia menjadi kebabalasan dalam memperlakukan alam serta mengekploitasinya diluar batas kendali. Tak heran, akibatnya alam pun menjadi marah dan tidak ramah lagi. Contoh, kasus penebangan pohon dan penggundulan hutan secara membabi-buta, serta menghilangkan daerah-daerah resapan air yang berubah menjadi “hutan beton” telah menimbulkan terjadinya banjir di mana-mana. Begitu juga, kasus pemanasan global dan rusaknya lapisan ozon merupakan cerminan dari ketidakarifan manusia dengan ilmu dan teori yang dimilikinya dalam memperlakukan alam.
Dengan demikian, kiranya dibutuhkan kesadaran moral dan kearifan yang tinggi manakala manusia hendak mengembangkan dan memanfaatkan teori-teori tentang kealaman. Sehingga pada akhirnya segala teori yang ditemukan benar-benar dapat menjadikan berkah bagi kehidupan manusia dan tidak sebaliknya.
Hidup manusia memiliki keragaman yang sangat luas. Faktor dan variabel yang berperan dalam kehidupan manusia pun sangat banyak dan kita tidak selalu dapat memprediksikannya selalu linier. Oleh karena itu, ilmu tentang kehidupan manusia ini termasuk soft science yang bersifat indeterminate.
Meski kemajuannya tidak sehebat ilmu dan teori dalam bidang keteraturan alam (hard science), ternyata ilmu tentang kehidupan manusia pun atau soft science mengalami perkembangan yang signifikan. Perubahan dan kemajuan ilmu tentang kehidupan manusia atau soft science ini sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari akibat kemajuan kedua hukum keteraturan lainnya.
Sebagai contoh, ketika manusia mampu menciptakan teknologi komputer atau transportasi, maka secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap pola hidup manusia itu sendiri, baik dalam hal ekonomi, sosial, politik, atau pun dalam perilaku sehari-hari. Pada gilirannya hal ini mendorong pula untuk berkembangnya ilmu dan teori tentang kehidupan manusia, seperti teori ekonomi, pendidikan, sosial dan sebagainya.
Yang menjadi persoalan ketika perkembangan ilmu dan teori tentang kehidupan manusia atau soft science ini tidak disertai dengan etik dan moral, maka yang terjadi justru kemunduran dan proses dehumanisasi yang menghilangkan fitrah kemanusiaan. Contoh kasus seperti terjadi di Indonesia, bahwa sejalan dengan perkembangan teori moneter yang berorientasi global seperti sekarang ini, di mana uang pun dapat dijadikan sebagai komoditi. Maka yang terjadi, banyak orang beramai-ramai untuk menjadi spekulan mata-uang, dengan cara memborong Dollar. Akibatnya mata-uang rupiah menjadi tidak stabil dan sistem perekonomian pun menjadi gonjang-ganjing.
Keteraturan alam yang determinate, dapat dibedakan menjadi dua; yakni keteraturan substantif dan keteraturan esensial. Pohon mangga Arumanis akan berbuah mangga Arumanis. Ketika ilmuwan berupaya menemukan esensi pohon mangga yang tahan hama penyakit, ilmuwan berupaya membuat rekayasa agar dapat diciptakan pohon mangga baru manalagi yang enak buahnya, banyak buahnya, dan pohonnya tahan hama penyakit, di sini nampak bahwa ilmuwan mencoba menemukan keteraturan esensial pada benda organik. Produk teknologi merupakan produk kombinasi antara pemahaman ilmuwan tentang keteraturan esensial yang determinate dengan upaya rekayasa kreatif manusia mengikuti hukum keteraturan alam.

Yang menjadi persoalan dari kemajuan rekayasa teknologi adalah ketika ilmuwan telah berhasil mengembangkan teknologi cloning pada kambing dengan maksud untuk mendapatkan jenis varietas unggul yang persis sama dengan “induknya”. Bagaimana kalau diujicobakan pada pada manusia ? Seandainya ini terjadi, maka penduduk dunia ini akan di isi dengan manusia-manusia yang sejenis dan banyak kemiripan, akan didapatkan ribuan duplikat Einstein yang sangat genius atau bahkan ribuan duplikat Fira’un yang sangat zalim. Jelas, semua ini mengingkari fitrah manusia dan tidak boleh terjadi dan seharusnya rekayasa teknologi tidak dimaksudkan ke arah itu.

Sabtu, 11 Januari 2014

PENGERTIAN FILSAFAT

PENGERTIAN FILSAFAT

Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.
Para filsuf memberi batasan yang berbeda-beda mengenai filsafat, namun batasan yang berbeda itu tidak mendasar. Selanjutnya batasan filsafat dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara etimologi dan secara terminologi.
Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi yang berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Berikut ini disajikan beberapa pengertian Filsafat menurut beberapa para ahli:
Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.
Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.
Cicero ( (106 – 43 SM ) : filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “( the mother of all the arts“ ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan )
Johann Gotlich Fickte (1762-1814 ) : filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.
Paul Nartorp (1854 – 1924 ) : filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya .
Imanuel Kant ( 1724 – 1804 ) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan.
1. Apakah yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya metafisika )
2. Apakah yang seharusnya kita kerjakan (jawabannya Etika )
3. Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya Agama )
4. Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi )
Notonegoro: Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.
Driyakarya : filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “.
Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.
Harold H. Titus (1979 ): (1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi; (2) Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan; (3) Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian ( konsep ); Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.
Hasbullah Bakry: Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Prof. Mr.Mumahamd Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialamiya kesungguhan.
Prof.Dr.Ismaun, M.Pd. : Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal,
integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati.
Bertrand Russel: Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi , filsafat berisikan pemikiran-pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh, tidak bisa dipastikan;namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu.
Dari semua pengertian filsafat secara terminologis di atas, dapat ditegaskan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut.

PERJUANGAN WALISONGO DISINGKIRKAN

PERJUANGAN WALISONGO DI SINGKIRKAN


Abad 7 hingga ke-13, peradaban Islam menguasai dunia dengan ilmu dan teknologinya yang lebih unggul dari Barat. Kemudian dihantam dan diratakan dengan tanah oleh Hulagu Khan (Mongol). Peradaban Aztec dan Inca dihancurkan pada masa awal penjelajahan Eropa dengan teknologi perang yang lebih canggih. Bangsa-bangsa Afrika menderita selama ribuan tahun akibat perbudakan. Nusantara kita dikangkangi Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jepang lebih dari 350 tahun lamanya. Inggris menguasai dunia dengan kemajuan teknologi perkapalan dan revolusi industri. Inggris menjajah India sejak abad ke-18. Cina dijajah negara-negara Barat dan Jepang pada abad ke-19. Pada Perang Dunia II, giliran Eropa dilindas Nazi Jerman. Jepang menjajah negara-negara Asia di Perang Dunia II. Amerika membom atom Jepang pada 1945. Bangsa yang unggul (superior) akan mudah mengalahkan bangsa yang lemah (inferior). Bangsa yang lemah, lembek akan dijadikan mangsa dan budak-budak serta kuli.

Setiap gerak sejarah Nusantara takkan pernah lepas dari tali temali gejolak dunia. Konstelasi internasional merupakan satu-satunya faktor penentu peristiwa di Bumi Nusantara kita. Berdirinya kerajaan Majapahit, dilatarbelakangi saat Singosari bertabrakan dengan Khubilai Khan. Perjuangan konsolidasi majelis Wali Songo yang dipelopori sang pembaharu, Syaikh Siti Jenar dan Sunan Ampel merupakan refleksi dan aksi geo-religius dan geo-politik dari radikalisme agama di Tanah Persia yakni lahirnya ‘Sang Tuhan’ Dinasti Safawiyah di bawah komando maharaja absolut perwujudan Tuhan, yang membabat habis wali-wali Tuhan tanpa sisa. Serta akan datangnya ‘pasukan Ya’juj Ma’juj Dajjal’ di bawah bendera Vasco Da Gama (Portugis). Kerajaan Mataram bisa berdiri karena Demak mengalami pelemahan setelah kalah bentrok dengan Portugis. Kemudian, Jepang masuk ke Indonesia saat Belanda lemah di kampung halamannya, dihantam badai swastika Nazi Hitler. Bumi Jepang luluhlantak dan diratakan dengan tanah oleh kekuatan bom atom Amerika. Akhirnya, meledak dan lahirlah kemerdekaan Nusantara yang saat ini kita nikmati bernama bumi Indonesia.

Perjuangan Wali Songo
Ada adagium yang mengatakan bahwa sejarah adalah hasil kontruksi elit, dimana sejarah adalah cerita kemenangan yang umumnya ditulis oleh para pemenang dan penguasa. Artinya siapa yang mampu merekonstruksi sejarah, pastilah akan menjadi pemenang dan digdaya dalam menapaki rentang waktu yang penuh pergulatan dan pertempuran untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Bertumpu dari adagium ini, perjuangan tokoh-tokoh besar sejarah Nusantara anggota Wali Songo dihapus dari Ensiklopedia Islam Indonesia (Terbitan Van Hoeve). Tidak bisa ditafsirkan lain kecuali adanya anasir-anasir sistematis dari keislaman mainstream Nusantara, faham Ahlusunnah Wal Jama’ah yang dikenal oleh kelompok Nahdhiyin (NU); untuk menghapuskan keberadaan perjuangan Wali Songo dari sejarah dakwah Islam di Nusantara. Di masa depan, secara akademis-intelektual keberadaan perjuangan Wali Songo akan terpinggirkan, dan disingkirkan dan hanya menjadi dongeng legendaris belaka. Wali Songo dan Islam Nusantara bagi kaum positivistik adalah sinkretis, asimilatif, semi-animis, mistis (irrasional), dan tradisionalis anti-gerak kemajuan dunia.

Fenomena ini tidak hanya lepas dari tilikan para sejarawan, para intelektual yang mengaku-aku kaum pembaruan Islam, ilmuwan sosial yang pada umumnya juga masih gelap-gulita melihat kenyataan itu. Hanya karena keangkuhan akademik-intelektualisme, mereka tak mau menerobos kabut mitologi (legenda) yang menyelebungi realitas sejarah Nusantara yang sejati. Tidak mempunyai kesabaran dan kepekaan lebih untuk membaca babat, prasasti, menyisir sejarah adi-luhung, menyusuri jejak-jejak spiritualisme, dan doktrin ilmiah versi Nusantara. 

Di tengah arus kemelut, dan kerancuan, bahkan kegelapan sejarah itulah Agus Sunyoto, sejarawan Nusantara berikhtiar mementaskan perjuangan Wali Songo dalam panggung sejarah Nusantara. Misi yang sungguh berat, di tengah gempuran aliran positivistik. Penulis memilah antara sejarah dengan mitos. Dibutuhkan data sejarah yang kuat untuk mendukung argumen dan pandangannya. Untuk itu diperlukan kemampuan khusus dalam membaca prasasti, naskah berbahasa Kawi dan Jawa Kuno, termasuk bahasa Sansekerta dan Arab.

Kesadaran akan makna pentingnya perjuangan Wali Songo dalam sejarah Islam di bumi Nusantara yang sisa-sisa jejaknya masih sangat jelas terlihat sampai saat ini. Dengan semangat rawe-rawe rantas malang malang putung dan vivere vericoloco, sejarawan Nusantara ini meneliti dengan serius sejarah perjuangan Wali Songo untuk “melengkapi” Ensiklopedia Islam Indonesia yang tampaknya dengan sengaja akan menyingkirkan tokoh-tokoh penyebar Islam abad ke-15 dan ke-16 yang berjasa dalam mengislamkan Nusantara tersebut.

Dalam buku Wali Songo; Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, komandan NU saat ini KH. Said Aqil Sirodj, dalam kata pengantarnya mengatakan perjuangan Wali Songo dalam menggalang kepercayaan umat melalui perjalanan dakwah yang tak kenal lelah, menancapkan tauhid dalam pikiran dan hati di bumi Nusantara, dibarengi apresiasi yang sangat tinggi pada agama Hindu, Buddha, Tantrayana, Kapitayan, dan lainnya. Wali Songo mampu mengelola budaya, sehingga diterima oleh hampir masyarakat Nusantara. Wali Songo mampu menjalankan misi dari bidang-bidang strategis dari bidang keagamaan, tata kemasyarakatan, strategi kebudayaan, geo-politik saat itu, ekonomi, pengembangan kesenian, dan sebagainya.

Strategi jitu para Wali Songo dalam mengembangkan ajaran Islam di bumi Nusantara dimulai dengan beberapa langkah strategis. Pertama, tadrij (bertahap). Tak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak, semua melalui proses penyesuaian. Bahkan, tak jarang secara lahir bertentangan dengan Islam, tapi ini hanya strategi. Misalnya, mereka dibiarkan minum tuak, makan babi, atau mempercayai para Danyang dan Sang Hyang. Secara bertahap, perilaku mereka itu diluruskan. Kedua, ‘adamul haraj (tidak menyakiti). Perjuangan Wali Songo menyebarkan Islam tidak dengan mengusik tradisi yang ada, tidak menggangu agama, sistem nilai dan kepercayaan, tapi memperkuatnya dengan cara yang Islami.

Buku ini menjelaskan dengan detail bahwa Wali Songo menyadari sungguh-sungguh, bahwa Nusantara yang multietnis, multibudaya, dan multibahasa, ini adalah anugerah Tuhan yang tiada tara. Belum lagi kondisi alam yang ramah, iklimnya yang tropis, tidak ekstrim. Ditambah dengan keanekaragaman hayati, hingga Wali Songo mensyukurinya dengan tidak merusak budaya yang ada atas nama Islam dan sebagainya. Anugerah yang mesti dilestarikan dan dikembangkan, bukan diingkari dengan dibabat dan dihancurkan atas nama kemurnian agama (purifikasi), terorisme, atau atas nama kemodernan. Islam hadir di paras bumi Nusantara ini justru merawat, memperkaya, dan memperkuat multikulturalisme Nusantara sehingga bisa berdiri sejajar dengan peradaban dunia yang unggul lainnya.

Karya sejarawan Nusantara yang juga penulis Novel berjilid-jilid berjudul Perjuangan Syaikh Siti Jenar dan Novel Rahuvanna Tatwa, ini terdiri dari 6 Bab yaitu bab 1: Data tentang Bangsa Nusantara, Bab 2: Para Wali dan Dakwah Islam, Bab 3: Kemunduran Majapahit dan Perkembangan Dakwah Islam, Bab 4: Dakwah Islam Masa Wali Songo, Bab 5: Tokoh-tokoh Wali Songo, serta Bab 6: Wali Songo dan Pembentukan Masyarakat Islam Nusantara. Buku ini juga sebagai sebuah undangan terbuka untuk masyarakat Islam Indonesia untuk mengetahui tentang negara-bangsanya di masa depan, dengan memahami masa lalu dan melihat masa kini.

Pembaca bisa memperoleh pijakan historis yang kuat. Kita akan lebih yakin untuk meneladani, menyebarkan serta mempelajari strategi perjuangan mereka. Sangat penting bagi kaum muda dan masyarakat bangsa yang sudah sangat kritis di era kapitalisme sekarang ini. Sebab, dengan bukti historis yang ada, kaum muda punya kecerdasan dan akumulasi pengetahuan lebih yang dulu dimiliki Wali Songo. Akan mudah dan mau menebar perjuangan Wali Songo, sebagai perintis, pelopor dan provokator kesadaran melawan tatanan anti Tuhan saat ini (baca: kelezatan kekayaan duniawi). Sebuah struktur dan gerak dunia, keadaan zaman Indonesia yang dulu pernah dialami Wali Songo, merubah tatanan Nusantara yang dulu berkiblat poros cinta-dunia.


Belajar dari keberhasilan dalam pembentukan masyarakat Islam Nusantara yang dahulu dilakukan oleh Wali Songo, mampu kita teladani di tengah arus banjir bandang globalisasi yang dahsyat saat ini. Seperti juga yang pernah diteladani oleh Guru Bangsa, KH Abdurrahman Wahid, yakni gerakan Pribumisasi Islam. Berdzikir, berpikir dan menggerakkan kembali nation-state of Indonesia untuk menggapai matahari kemajuan Republik, pluralisme sejati, kebhinnekaan, kesejahteraan, dan mencinta nilai-nilai utama kemanusiaan. Serta jadi bangsa Indonesia yang unggul, mandiri, tidak lembek yang akan kelak dijadikan mangsa, budak-budak dan kuli oleh para pemuja dan pecinta kelezatan duniawi; laskar Ya’juj Ma’juj Dajjal.